Kamis, 18 Mei 2017

Bermimpilah, maka Tuhan akan Mengabulkan [Inspirasi]

Bermimpilah, maka Tuhan akan Mengabulkan

Oleh: Ilham Ibrahim Marpid

Malam itu terasa berbeda dari malam-malam biasanya. Aku yang duduk di depan monitor komputer dalam sebuah warnet hanya bisa termenung. Perasaanku saat itu campur aduk antara senang dan tertekan. Senang karena diterima dalam sebuah fakultas di universitas negeri dan tertekan melihat angka 64 juta rupiah yang harus disiapkan oleh orang tuaku untuk membayar uang pangkal penerimaan masuk di sebuah Fakultas Kedokteran.
 
Haahhh.”, kuhela nafas, membebaskan beban berat di hati.
 
Aku sudah berkali-kali mengatakan pendapatku kepada ayah, agar mengubur mimpinya dalam-dalam untuk mempunyai anak seorang dokter. Namun, dengan keras kepala, ia selalu mengatakan kepadaku untuk mencoba mengambil jurusan kedokteran. Aku yang waktu itu sadar dengan kemampuan finansial orang tuaku hanya bisa pasrah dan berdoa kepada tuhan agar diberikan jalan yang terbaik untukku serta keluargaku.


Dengan susah payah ia menyemangatiku untuk terus belajar. Bahkan ia rela menyisihkan uangnya yang hanya seberapa untuk memasukanku ke dalam suatu lembaga bimbingan belajar di dekat sekolahku. Melihat semangatnya yang menggebu, yang bisa kulakukan waktu itu hanya belajar dan berdoa.
Aku ingat ayahku pernah berkata kepadaku.
 
Kita memang orang tidak mampu dalam hal finansial, namun hal itu bukan berarti kita tidak bisa bermimpi. Kamu harus punya cita-cita setinggi langit. Kamu harus menjadi sesuatu. Kamu harus menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.”
 
***
 
Kulangkahkan kakiku dengan berat menuju rumah. Berita 64 juta rupiah sungguh menjadi suatu beban yang memberatkan hatiku untuk menyampaikan kabar, yang entah itu gembira atau duka. Langkahku pelan-pelan saja seakan berharap tidak sampai rumah. Jujur, aku tidak tega jika nanti melihat orang tuaku sedih karena tidak mampu untuk membayar uang pangkal 64 juta rupiah itu.

Sesampainya di rumah dapat kulihat wajah tegang kedua orang tuaku menunggu hasil pengumuman penerimaan mahasiswa. Aku yang melihat kedua wajah itu hanya bisa pasrah dan tersenyum. Kusampaikan hasil pengumuman itu. Kulihat wajah tegang ke dua orang tuaku perlahan-lahan sirna terganti dengan senyum dan air mata bahagia.

Setelah kegembiraan itu mereda kusampaikan berita 64 juta itu kepada ke dua orang tuaku. Betapa terkejutnya diriku karena tak ketemukan raut kesedihan di kedua wajah mereka setelah mendengar kabar buruk yang kuberikan.

Hanya senyum mereka berdua mengembang seakan meredakan rasa khawatirku.
 
Ayahku rupanya sudah menyiapkan uang 64 juta itu. Saat kutanya dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu. Ia hanya menjawab santai.
 
Tenang, ini halal karena datang dari tuhan.”
 
Aku bagai tersambar petir, selama ini aku hanya khawatir. Aku lupa masih ada tuhan. Masih ada Dia yang selalu memberikan hal terbaik untuk umatnya. Cerita ini ditulis dari pengalaman pribadi yang saat ini telah berprofesi sebagai dokter. Semoga menginspirasi;
  1. Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Bidikmisi [Mengejar Mentari]
  2. Gagal SBMPTN Sampai Akhirnya LOLOS PTN 2016 [Inspirasi]
  3. Beasiswa Yayasan Ringankan Beban Orang Tua [Inspirasi]
  4. 23+ Cara Menjadi Juara Kelas [Lengkap dan Mudah]


EmoticonEmoticon