Kamis, 11 Mei 2017

Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Bidikmisi [Mengejar Mentari]

Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Bidikmisi "Mengejar Mentari"

Oleh: Ahmat Prabowo [Mahasiswa Bidikmisi UNY]


Pendidikan adalah kunci kesuksesan. Nama saya Ahmat Prabowo dari Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kedua orang tua saya bekerja menjadi buruh harian lepas, bapak sebagai tukang becak dan ibuk sebagai asisten rumah tangga tidak tetap jika ada pekerjaan baru beliau bekerja. Saya bukan orang yang cerdas namun takdir Allah lah yang baik padaku. 

Saya Mahasiswa Beasiswa Bidikmisi


Saya termasuk Mahadiksi (Mahasiswa Bidikmisi) di UNY. Yaitu Beasiswa bagi mahasiswa yang kurang beruntung dari segi ekonomi untuk bisa melanjutkan kuliah. Apakah saya termasuk siswa yang pandai?. Tidak, namun takdir Allah lah yang baik padaku.

Masuk di Kampus melalui jalur SBMPTN mungkin pengalaman yang tidak akan pernah terjadi lagi keberuntungan seperti itu, pengalamanku dulu sempat dinyatakan lolos masuk menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada di jalur PBUTM (Pemilihan Bibit Unggul Tidak Mampu) namun hanya Diploma 3 (D3) dengan berat hati tidak diambil untuk mengambil S1 di UNY saja, karena mungkin untuk menjadi sarjana hanya waktu itu saja. Dan mungkin kalau di izinkan lanjut oleh Tuhan adalah anugrah yang terbaik untukku. 


Aku yakin pendidikan itu menentukan nasib kita kedepan mau bersusah susah di depan dan memanen hasil yang baik diakhir atau sebaliknya itu tergantung dari apa yang kita perbuat sekarang. Aku beruntung bisa kuliah sedangkan bapak yang cuma berpendidikan sampai SD saja.

Aku beruntung bisa kuliah sedangkan ibuk hanya sampai SMA saja itupun tidak tamat sekolah. Sudah suatu kewajiban seorang anak untuk lebih baik dari orang tuanya dan tanggung jawabku untuk membuat kedua adikku untuk menjadi jauh lebih baik dari aku saat ini. Aku bangga dengan keringat kedua orang tua yang mampu menghantarkan aku sampai sejauh ini dan menjadi tugasku untuk ikut serta membiayai sekolah kedua adikku nantinya. 

Pendidikan adalah suatu perjuangan dan kesabaran. Menempuh SD dengan waktu 7 tahun adalah kenangan pahit yang dialami. Semua orang pasti mengalami saat-saat “nakal” dimana sebuah lingkungan sangat berpengaruh menurutku. Pada waktu kelas 4 SD dinyatakan tidak naik kelas karna sering bolos dan ketahuan merokok.

Mungkin puncaknya di kelas 4, dari kelas 1 sampai kelas 3 selalu di peringkat terakhir dengan nilai do re mi yang mewarnai rapot dengan tinta merah. Namun kesabaran orang tua mengikis dan membentuk takdir yang baik untuk dari kelas 4 yang mengulang peringkat merangkak naik ke pertengahan sampai di kelas 6 bisa sampai di posisi 5 besar, itu bukan sesuatu yang gampang mengingat aku yang selalu menjadi juru kunci di peringkat terakhir. Mulai dari situ SMP dan SMK selama 6 tahun bisa stay di rangking 1. Saya bukan orang yang cerdas namun takdir Allah lah yang baik padaku. 

Harapanku Kedepan Sebagai Mahasiswa Bidikmisi


Kini melanjutkan pendidikan diperkuliahan suatu pengalaman baru yang semangat aku jalani untuk masa depanku. Jika pendidikan tidak berpengaruh bagi masa depan apa salahnya kita mencoba. Indonesia butuh pahlawan baru, yaitu pahlawan yang berasal dari kaum cendikiawan, kita sekarang sedang dijajah namun dijajah dengan sesuatu yang kita sukai.

Film yang mengandung unsur sara dan pornografi menjadi ladzim ditemui namun orang yang berprestasi jarang kita jumpai. Sudah tugas kita sebagai generasi pengganti kejayaan Soekarno terulang kembali, dan kita sebagai generasi muda menjadi bagian dimana masa itu terulang.

Baca Juga Artikel Cara Juara Lainnya;
  1. 23+ Cara Menjadi Juara Kelas [Lengkap dan Mudah]
  2. 9 [Cara] Juara 1 Lomba Cipta dan Baca Puisi
  3. [Fakta atau Mitos] Tuan Rumah Penyelenggara Lomba Selalu Menjadi Juara


EmoticonEmoticon