Kamis, 08 Juni 2017

Dari Anak Desa Jawara Di Malaysia [Berbagai Pengalaman]

Dari Anak Desa Jawara Di Malaysia


Hari itu terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Menjunjung tinggi piala di Negeri Jiran Malaysia. Hanya rasa tak percaya dan ucap syukur atas KebesaranNya. Ternyata hari itu benar adanya, Aku dan temanku mendapatkan juara tiga. Lomba yang kami ikuti bernama Lomba Karya Tulis Ilmiah PPI Malaysia (LKTI PPIM) 2015.

Lebih lanjut dijelaskan dalam panduan lomba bahwa LKTI PPIM 2015 ini merupakan lomba yang ditujukan untuk mahasiswa (S1, S2, S3 ataupun postdoc) berwarga negara Indonesia atau Malaysia yang berdomisili di Malaysia ataupun Indonesia. Tujuannya yaitu untuk memberikan ide dan gagasan rasional sesuai dengan tema “Indonesia Masa Kini dan Mendatang Dilihat dari Berbagai Perspekstif Keilmuan”, dengan subtema: Sains, Sosial, Budaya, Keagamaan, Politik, Hukum, atau Keamanan.

Awal mengetahui postingan info lomba ini di media sosial, Aku langsung tertarik dan secepatnya menggali ide sesuai dengan tema lomba. Aku mengajak temanku bernama Redza Dwi Putra bergabung dalam satu tim untuk mengikuti lomba tersebut.

Berdasarkan informasi dari teman sekelasnya, dia sering menjadi perhatian kaum hawa lho? dia juga sempat menyabet juara 1 pada sebuah perlombaan tingkat nasional di Universitas Indonesia. Tulisanya juga pernah dimuat di koran.

Baca: 8 [Cara] Menggali Potensi Dengan Menulis Opini

Redza itulah nama akrabnya, dia adalah orang yang berbakat dalam hal kepenulisan, public speaking, dan tentunya mempunyai visi yang sama denganku yaitu ingin menginjakkan kaki di luar negeri. Melalui kelebihannya dalam public speaking, itu akan sangat melengkapi kekuranganku yang kurang mahir dalam public speaking. Sehingga perpaduan kelebihan dan kekurangan itulah yang membuatku memutuskan Redza sebagai partner dalam ajang besar ini.

Sore hari menjelang Sholat Asar pada hari H 28 Maret 2015 karya tulis kami selesai. Kami segera melakukan pembayaran pendaftaran lomba sebesar 30 RM (Ringgit Malaysia) atau Rp 110.000,00. Setelah itu kami mengirimkan karya tulis beserta berkas-berkas kelengkapannya melalui email Redza, karena sesuai kesepakatan dialah yang menjadi ketua tim kami. Hasilnya lolos atau tidak kami pasrahkan saja KepadaNya, yang penting usaha dan doa maksimal sudah kami persembahkan.

Setelah menunggu lebih dari satu bulan sejak deadline pengiriman karya, tepat pada tanggal 1 Mei 2015 ada sebuah email pemberitahuan dari panitia. Getaran di jantung kami saling mendahului, penasaran apa isi email tersebut. Diawali ucap doa dalam hati kami membukanya, ternyata email tersebut berisi pengumuman lomba. Kami lolos menjadi finalis dan berhak maju ke babak final presentasi di Malaysia!.

Ternyata ada 6 tim finalis yang lolos untuk presentasi di Malaysia pada tanggal 9 Mei 2015. Kami berdua masih tidak menyangka kalau nama kami benar-benar tertulis di lembar pengumuman. Dari 6 tim finalis tersebut, ada yang dari tingkat pendidikan Sarjana, Magister, dan Doctoral dari beberapa universitas besar di Indonesia dan Malaysia diantaranya International Islamic University Malaysia, Universiti Teknologi Malaysia, Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Pendidikan Ganesha dan universitas kami tercinta yaitu Universitas Sebelas Maret.

Kami berdua memutuskan untuk melanjutkan perjuangan kami di Malaysia. Dalam jangka waktu 7 hari sejak pengumuman, kami mempersiapkam hal-hal yang berkaitan dengan keberangkatan. Mulai dari mengajukan permohonan dana (ke pihak fakultas, universitas, dan dosen), memesan penginapan murah dekat lokasi presentasi, dan membuat slide presentasi. Respon positif dan dukungan dari pihak kampus memupuk semangat kami untuk pulang ke tanah air dengan mendapatkan gelar juara dan mengharumkan nama almamater.

Tepat pada tanggal 8 Mei kami berduapun terbang dari Solo ke Jakarta.

Setelah transit di Jakarta, kami melanjutkan penerbangan internasional lintas negara ke Kuala Lumpur, Malaysia. Setiap detik penerbangan saat itu sungguh terasa istimewa.

Akhirnya setelah mendarat selamat di Kuala Lumpur, kami segera naik bus dan dilanjut taksi untuk sampai ke penginapan. Untuk transportasi, penginapan, dan makan selama di Malaysia memang kami harus menanggung sendiri, karena dari pihak panitia tidak menfasilitasinya. Hal inilah yang menjadi salah satu memori berkesan dalam perjuangan kami.

Penginapan kami berupa hostel bukan hotel di daerah Cakat Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Setibanya di hostel pukul 03.30 waktu setempat, kami langsung melakukan registrasi ke petugas hostel yang kira-kira bukan keturunan Asia. Kulitnya putih dan postur tubuhnya tinggi, seperti orang Amerika. Konsentrasi kami sudah hanyut bersama lelah dan rasa kantuk, jadi ketika petugas tersebut menjelaskan aturan dan bertanya, kami berdua tidak terlalu paham. Setelah dia selesai bercakap dengan bahasa inggrisnya yang susah dimengerti tersebut, kamipun merebahkan tubuh di atas kasur putih yang ditiup udara dingin AC. Dalam satu ruangan yang besar, tempat tidur dua tingkat dipenuhi orang-orang India, Pakistan, dan Amerika. Hanya tersisa satu set tempat tidur dua tingkat. Kamipun menutup mata sejenak disitu sampai subuh.

Kurang lebih pukul 06.00 waktu setempat kami berdua meninggalkan hostel berjalan kaki menuju lokasi presentasi lomba yaitu di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Tak lupa sambil berjalan kami menikmati udara pagi di luar Indonesia dan mengabadikan satu dua detik momen di negeri orang.

Tak terasa langkah kami mendekat ke sebuah gedung dengan bendera merah putih menjulang tinggi di atasnya. Kami sampai di KBRI Kuala Lumpur.
   
Kurang lebih pukul 09.00 waktu setempat acara yang bertempat di Aula Hasanuddin KBRI Kuala Lumpur dimulai oleh pembawa acara. Kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, setelah itu sambutan ketua panitia acara, sambutan ketua umum PPI Malaysia, sambutan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, dan terakhir sambutan Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia yang sekaligus meresmikan acara.
     
Dijelaskan lebih lanjut ternyata LKTI PPIM yang kami ikuti merupakan salah satu dari tiga acara bertajuk “Pendidikan Awal Kebangkitan” yang diadakan oleh PPI Malaysia bekerjasama dengan pihak KBRI Kuala Lumpur. Ajang ini diadakan untuk memperingati dua hari besar nasional di bulan Mei yaitu hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei dan hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Dua hari besar ini merupakan momentum sejarah bagi bangsa Indonesia yang memberikan artian bahwa pendidikan adalah awal dari kebangkitan bangsa.

Setelah sambutan selesai, sesi presentasi LKTI dimulai. Tim kami mendapatkan nomor urut 3. Dua presentasi pertama dari Universiti Teknologi Malaysia (Doctor) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (Doctor).
   
Karya mereka sangat bagus, empat jempol. Melihat dua penampilan tadi kami agak drop, namun kami harus menampilkan yang terbaik.

Selanjutnya adalah tanya jawab dengan tiga dewan juri profesional. Pertanyaan demi pertanyaan dapat kami jawab, kritik dan masukan yang diberikan juga kami terima. Disaksikan oleh khalayak kamipun turun dari panggung megah itu dan kembali ke tempat duduk semula. Setelah seluruh finalis LKTI mempresentasikan karya tulisnya, kemudian dilanjutkan dengan final Lomba Cipta dan Deklamasi Puisi Tingkat Pelajar, Mahasiswa dan Umum.

Pelajar disini adalah anak-anak para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Setiap giliran peserta maju ke depan, terlihat para TKI meneteskan air mata terutama ibu-ibu. Mereka haru dan bangga kepada anaknya yang telah diberi kesempatan untuk bersuara. Dalam hati kecilnya, mereka pasti berdoa agak kelak anak-anaknya bisa sukses dan berhasil di negeri sendiri, tidak menjadi TKI yang rawan siksa seperti orang tuanya. Kalaupun mereka harus menjadi TKI di luar negeri, jadilah TKI profesional di perusahaan-perusahaan besar, dan mereka tetap harus kembali membangun Indonesia.  Lomba cipta dan deklamasi puisi telah usai, dilanjutkan dengan Speech Competition in Bahasa Indonesia (SCBI) bagi Warga Negara Asing (WNA) yang berada di Malaysia.

Lomba demi lomba berlalu, akhirnya tiba saatnya yang ditunggu-tunggu bagi seluruh peserta lomba. Pengumuman pemenang LKTI, lomba puisi, dan lomba pidato. Suara MC terdengar jelas menyebutkan namaku dan Redza sebagai juara 3 LKTI PPIM 2015. Aku dan Redza yakin kami tidak salah dengar. Untuk yang kedua kalinya kami maju ke panggung untuk menerima piala, sertifikat, dan uang pembinaan.

Acarapun selesai setelah melakukan selebrasi dengan foto bersama, malam harinya finalis LKTI PPIM khususnya yang berasal dari Indonesia yaitu dari Universitas Sebelas Maret, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada diajak untuk menikmati gemerlap pusat kota Kuala Lumpur di bawah puncak Menara Petronas. Sesampainya di Menara Petronas, Aku dan Redza bergantian menggambil gambar di bawah salah satu menara tertinggi di dunia tersebut.

Kurang lebih pukul 23.00 waktu setempat, kami menyudahi semuanya setelah acara makan malam selesai. Kami berpamitan dengan para finalis dan panitia untuk segera ke bandara supaya tidak ketinggalan pesawat untuk kembali ke Indonesia. Berat rasanya meninggalkan kenangan dan pengalaman luar biasa ini. Sungguh perjuangan yang terbalas dengan hasil sepadan. Bagiku sendiri seluruh rangkaian skenarioNya ini membuatku terharu dan kembali tak percaya. Ucap syukur menggebu dalam hati terdalam. Aku hanya seorang anak desa di bibir Samudera Hindia. Aku adalah orang yang tidak percaya diri dan pemalu berbicara di depan umum. Aku juga tidak begitu pandai sepeti teman-temanku yang lain. Namun karena ada kesempatan, Aku mencoba untuk terus berkembang. Usaha yang dibalut doa dan keberuntungan akhirnya membawaku kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan modal beasiswa dari pemerintah.

Keinginanku untuk mengukur sejauh mana kemampuan dalam hal kepenulisan, mengajakku untuk mengikuti berbagai kompetisi. Jujur saja, kegagalan lebih banyak Aku terima daripada kemenangan. Tak jarang rasa letih dan putus asa hinggap di dada. Namun, dari perjalananku bersama Redza ini aku banyak belajar. Tak penting menang atau kalah, yang terpenting adalah rasa syukur karena telah diberi kesempatan untuk merasakan perlombaan. Karena tidak sedikit orang yang berani untuk berkompetisi. Mengutip petuah dari teman inspiratifku bernama Inayah, yang kurang lebih seperti ini “Hargailah setiap proses, karena proses lebih berharga daripada hasil”.

Terimakasih Allah SWT, keluarga, Redza, fakultas, universitas, dosen-dosen, panitia, peserta, pilot, petugas hostel, pramugari, dan seluruh yang terlibat dalam perjuangan kami. Kemenangan ini milik kalian!. Demikianlah Dari Anak Desa Jawara Di Malaysia [Berbagai Pengalaman] yang ditulisakan oleh Dhany Pangestu. Semoga bisa menjadi inpirasi juara bagi segenap pembaca website lomba. Jangan lupa baca juga artikel lainnya;
  1. 8 Cara Juara Lomba Akademik dan Non Akademik [Lengkap]
  2. 7+ [Cara Juara] dengan Rumus “BEGAL TAKSI”
  3. 12 [Cara] Juara Lomba Menulis Cerpen, No 5 Penting!
  4. 9 [Cara Juara] Lomba Menulis Fiksi dan Non-Fiksi


EmoticonEmoticon